Jumat, 18 November 2011

Demokrasi itu TIDAK Adil

Mahasiswa memberikan harapan besar saat meruntuhkan rezim soeharto, namun hingga kini harapan-harapan besar itu pun tak banyak yang berhasil. Makin suburlah ungkapan yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Reformasi yang telah menggunlingkan rezim Soeharto itu mengganti sistem orde baru dengan sebuah sistem yang dikenal dengan DEMOKRASI. Dan hasil dari sebuah sistem yang dinamakan DEMOKRASI itu seperti yang kita nikmati sekarang ini.

Kejam bukan demokrasi yang telah berjalan selama lebih dari satu dasawarsa ini? Dimana-mana timbul masalah, bahkan banyak orang beranggapan lebih baik menjalani era Soeharto dibanding kehidupan saat ini. Yang katanya menawarkan solusi dari pemerintahan Soeharto, namun apa boleh buat kenyataan di lapangan tidaklah semanis harapan yang telah digembor-gemborkan pada 98 lalu. Kemanakah mahasiswa yang harus bertanggung jawab atas itu semua? Duduk tenang di depan komputer sambil main game? facebookan dan sebagainya?

DEMOKRASI, memang sebuah sistem yang awalnya dipercaya untuk menggantikan sistem lama pada orde baru, namun setelah sekian lama berjalan, ternyata sistem tersebut tidaklah berhasil untuk Indonesia. Mungkin perlu menganut sistem lain yang saya sendiri tidak tahu. Karena demokrasi itu KEJAM!

Kenapa demokrasi itu kejam? Seperti yang sudah kita lihat sehari-hari, penindasan kaum minoritas sangatlah kental. Minim kekuasaan akan terlindas oleh yang makro kekuasaan. Mungkin kekejaman demokrasi dapat diilustrasikan dalam beberapa kalimat di bawah ini

Ada acara rekreasi ke puncak gunung yang masing-masing anggotanya diharuskan membayar 50ribu rupiah. Dua kubu dalam kelas tersebut memiliki pendapat yang bertentangan, satu ingin rekreasi tersebut tetap terlaksana, di kubu yang lain tidak ingin rekreasi tersebut berlangsung karena mengeluarkan biaya yang cukup banyak bagi anak kos seperti mereka.

Dari situ ketua kelas memutuskan untuk melakukan voting dari peserta, setelah voting usai, suara yang diperoleh ada 49%anak yang tidak setuju dengan adanya rekreasi tersebut, sedangkan yang 51% tetap ingin acara tersebut dilaksanakan. Karena pemenangnya adalah mereka yang setuju maka mau tidak mau 49% suara dianggap kalah dan harus mengikuti apa yang dikehendaki oleh kaum mayoritas, meski selisihnya tidaklah banyak.

Dari ilustrasi tersebut saya simpulkan bahwa 49%suara ditindas oleh 51% suara, padahal selisihnya hanyalah sedikit saja. Bisa dipastikan ke 49% suara pun kecewa dengan hasil tersebut dan terpaksa menyetujui pelaksanaan rekreasi tersebut. Apakah demokrasi bisa dibilang sesuatu yang adil? Mari kita fikirkan bersama

2 komentar:

  1. tinggal bagaimana kita melihat dari sisi mana sebuah demokrasi itu bisa adil dan sesuai visi misi yang kita emban. jika kita selalu merasa tidak ada yang beres dengan hal yang sedang kita hadapi dan tidak ada tindak lanjut dari diri sendiri, maka semua itu omong kosong

    BalasHapus
  2. menurut saya MUSYAWARAH adalah keputusan yang paling adil dimana banyak pihak bernegosiasi meski hasilnya ada yang merasa tidak adanya keadilan, tetapi setidaknya sudah ada PROSES untuk saling memberi masukan

    BalasHapus