Beberapa minggu terakhir ketika pulang kuliah saya sering terjebak di lampu merah Pucang, dekat dengan Uranus Surabaya. Awalnya saya tidak menyadari bahwa sedang diberi pelajaran, setelah berulang kali hal tersebut terjadi. Saya sendiri berhenti tepat di garis sebelum zebra cross yang beberapa waktu lalu dipermasalahkan oleh orang yang merasa terganggu karena saya menaati peraturan.
Saya perhatikan sekeliling saya, dari penampilannya banyak orang-orang berpendidikan berhenti tepat di zebra cross yang digunakan oleh penyebrang jalan bahkan ada yang jauh di depan zebra cross, dan memakan jatah arus kendaraaan lain. Apakah tidak malu dengan perangkat yang mereka gunakan? Ada yang menggunakan jas jurusan, yang menunjukkan mereka adalah salah satu mahasiswa dari kampus negeri ternama, ada juga yang menggunakan plat nomor merah yang menunjukkan mereka dari orang-orang pemerintahan dan masih banyak kriteria yang menujukkan mereka dari orang-orang yang berpendidikan cukup tinggi.
Saya sendiri kurang tahu apa yang membuat mereka seperti itu, tergesa kah? atau budaya? Padahal mereka berpendidikan tinggi tapi kenapa hal tersebut dilakukannya? Pernah suatu ketika seorang bapak separo baya dengan motor yang bisa dibilang tua berhenti disamping saya, meski depan zebra cross masih kosong. Bahkan orang-orang seperti itu pun masih dapat memberikan contoh yang baik.
Padahal ketika lampu berwarna hijau, mereka yang berada di barisan paling depan tidak mengetahuinya. Sehingga kami yang berada di garis sebelum zebra cross yang ingin melaju terhalang mereka yang tidak tahu. Sehingga terkadang saya pun menyelinap melalui samping rombongan untuk segera melaju lantaran tergesa-gesa.
Dari situ saya mengambil sebuah pelajaran bahwa yang terdepan tidak selalu juara. Mereka seolah termakan kesombongan karena berada di barisan paling depan. Terkadang saya capek ketika harus membunyikan suara klakson yang memekakan telinga. Hal sederhana tersebut menjadi sebuah perenungan buat saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar