Perpisahan, saya rasa banyak sekali orang yang menolaknya, apalagi jika berpisah dengan orang-orang yang dicintai, disayangi dan di lain-laini. Cukup berat untuk berpisah dengan mereka yang selalu mewarnai hidup kita, entah dengan warna yang cerah maupun yang kurang cerah, karena orang-orang disekeliling kita lah yang membuat hidup kita berwarna, tidak hanya hitam dan putih.
Tidak terasa sudah satu tahun ini saya berpisah dengan teman-teman SMK, seperti kata banyak orang bahwa masa SMA itu merupakan masa yang paling indah. Itulah yang mungkin saya rasakan. Seperti yang telah saya ungkapkan pada tulisan sebelumnya bahwa tidak ada yang kebetulan. Kita sekelas dengan anak ini, itu atau satu sekolah dengan dia, mereka, juga bukanlah suatu kebetulan.
Percayalah suatu saat kita akan bertemu lagi dengan mereka, tentunya dengan wajah yang berbeda lagi. Pertemuan selanjutnya belum tentu baik juga, bisa saja bertemu sebagai sepasang suami istri, musuh atau bahkan bertemu dalam keadaan salah satunya sudah tiada lagi di dunia. Seperti kata pepatah, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Karena tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali karakter diri seseorang yang dituliskan.
Ini merupakan akhir putih abu-abu, semua kenangan masa putih abu-abu akan sering sekali di ulang-ulang untuk sekedar mengenang apa yang telah terjadi. Kurang lebih seperti itulah yang aku rasakan setahun yang lalu ketika akan berpisah dengan teman-teman SMK.
Jika perpisahan itu tidak pernah terjadi, kita tidak akan pernah berkembang menjadi sesuatu yang lebih baik, lantaran orang-orang disekitar kita juga tidak berkembang. Berkembang yang saya maksud bukanlah berkembang biak namun berkembang dari pola pikir, kedewasaan dan nilai-nilai lain yang tidak akan mendapat nilai angka maupun huruf, namun dengan rasa.
Jadi bersiap-siaplah berpisah ketika sudah bertemu. Setiap pertemuan memiliki makna tersendiri, sama seperti yang pernah saya tulis sebelumnya bahwa tidak ada yang sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar