Selama 12 tahun saya telah menyelesaikan S3, yaitu SD, SMP dan SLTA. Meski ketiganya berada di tempat yang saling berjauhan saya bisa menyelesaikannya dengan cukup baik, sehingga meninggalkan kesan tersendiri di masing-masing jenjang yang sudah saya lalui tersebut.
Saat sekolah, saya bukanlah orang yang pintar, juga bukan bodoh. Saya salah satu siswa yang sedang-sedang saja. Status sedang-sedang saja mungkin hanya berlaku di bidang pelajaran normatif yang pada umumnya dinikmati anak-anak di sekolah lain. Mungkin ada hal lain yang membuat saya tidak tampak sedang-sedang saja.
Semasa SD yang memakan waktu 6 tahun saya habiskan di MI Perwanida Blitar. Saya hanya beberapa kali masuk dalam peringkat 10 besar dan itu pun bukan langganan. Selama 3 tahun saya mengenyam pendidikan di SMP Negeri 1 Ngadirojo. Di sini saya agak sedikit menonjol dibandingkan yang lain, mungkin ini perbedaan pendidikan di kota (Blitar saat MI) dan di desa (Pacitan).
Lulus SMP saya melanjutkan di SMK Negeri 1 Surabaya. Di sini saya tidak lah terkenal sebagai sosok yang pintar seperti saat masih SMP. Karena banyak anak yang jauh lebih pintar dari saya. Di sini saya hanya dikenal sebagai sosok yang biasa-biasa saja. Semua itu masih dalam konteks pelajaran sekolah.
Saat SMK bisa dibilang nilai saya cukup hancur, banyak angka-angka yang kurang diharapkan. Bisa dibilang masa SMK merupakan kehancuran prestasi akademik saya, berbeda saat di MI dengan julukan raja IPS, dan SMP yang cukup dikenal sebagai anak yang cukup pandai bahkan termasuk 10 terbaik saat perpisahan SMP.
Ketika prestasi akademik merosot, saya mengalami peningkatan di prestasi non akademik. Mungkin saya memang ditakdirkan untuk memiliki keunggulan dibidang non akademik. Setelah saya renungkan, kecerdasan emosional saya lebih berpengaruh dalam kehidupan saya daripada kecerdasan intelektual.
Melihat background kehidupan saya yang berpindah-pindah kota, membuat saya tahu karakter orang, sehingga membantu saya untuk mengenal karakter seseorang dan menempatkan diri. Sehingga meski saya tidaklah terlalu terkenal saat itu, namun saya mendapat kesempatan yang hampir sama dengan mereka yang sudah terkenal pintar dibidangnya.
Selain itu saya juga mulai aktif di komunitas sekolah maupun di luar sekolah, hal tersebut membuat saya semakin dikenal. Dari kehidupan saya saat ini, kecerdasan saya tidaklah terlalu berpengaruh, komunitaslah yang sudah banyak mempengaruhi kehidupan saya saat ini. Beberapa orang mengatakan saya pintar dibidang tertentu, namun ketika saya tanya mana buktinya mereka malah menjawab keaktifan saya di berbagai macam kegiatan. Sebenarnya keaktifan saya diberbagai kegiatan bukanlah karena kecerdasan intelektual, tetapi kecerdasan emosional.
Jadi, saya menulis ini karena ingin share bahwa jangan hanya mengejar kecerdasan intelektual, namun kita juga perlu meningkatkan Emosional dan Spiritual yang lebih berpengaruh dibandingkan kecerdasan Intelektual.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar