Ada pepatah yang bilang bahwa sejarah itu bukan apa yang terjadi, ya karena sejarah itu apa yang dituliskan. Memang ada benarnya sih, karena sejarah bisa dibelokkan dengan berbagai macam tulisan. Indonesia sendiri pernah mengalaminya saat rezim orde baru, alias rezim pak Harto. Bagaimana tidak?
Tiap orang pasti akan mengalami yang namanya mati. Kematian seseorang pasti meninggalkan duka yang mendalam untuk orang-orang disekitarnya. Pastinya mereka meninggalkan jutaan kenangan indah maupun buruk. Setidaknya semua itu terekam secara jelas dengan orang-orang yang berhubungan langsung dengan kita.
Setelah sekian lama, hal tersebut akan hilang, tergantikan oleh generasi baru yang tidak akan mengenal kita selama kita selama hidup hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja. Yah, kita akan dikenal dalam 2 / 3 generasi di bawah kita saja. Setelah itu akan lenyap...
Oleh karena itu, pengalaman yang kita peroleh saat hidup merupakan sebuah peninggalan yang tak ternilai bagi generasi selanjutnya. Bagaimana lagi kita berkontribusi dengan generasi di bawah kita? Satu-satunya cara adalah dengan MENULIS.
Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Coba bayangkan jika Muslim, Bukhori tidak pernah menulis sabda Rosulullah, apakah kita akan mengenal utusanNya tersebut?
Beliau orang besar, sehingga banyak orang yang mau menuliskan sejarahnya. Berbeda dengan kita. Siapa kita? Hanyalah orang biasa diantara jutaan orang biasa yang kini sedang hidup di dunia. Tak ada orang yang mau menuliskan sejarah hidup kita selama kita menjadi orang biasa. Oleh karena itu mari tuliskan sejarah masing-masing. Sehingga nama kita akan tetap ada meski generasi terus berganti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar