Selasa, 29 Maret 2011

Perbedaan Memberi Keseimbangan


Kurang lebih 1 bulan meninggalkan "penjara", saya bertemu dengan banyak orang yang berbeda-beda dari segi tampilan, budaya, bahkan sampai pemikiran. Beberapa teman sebaya sempat saya racuni dengan pemikiran-pemikiran saya yang masih nanggung. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa pemikiranku sudah dewasa. Hal ini dikarenakan selama di "penjara", saya bersama orang-orang yang dewasa seperti Mas Hiza dan Mas Adhi Hargo. Selain itu mereka merupakan orang IDEALIS yang secara tidak langsung menyumbang terbentuknya pola pikirku. 

Inilah saat yang bisa dibilang proses pendewasaan diri dalam arti yang luas (fisik dan batin). Saya memiliki kesenangan tersendiri ketika membantu teman sebaya dalam memecahkan masalah mereka. Karena pemikiran saya yang cenderung idealis, tidak semua pemikiran yang saya ungkapkan mereka terima, karena mereka memiliki pola fikir yang realistis. Sempat terjadi perdebatan yang sebenarnya jika diteruskan tidak akan ada habisnya. Bisa dibilang debat kusir (debat yang tidak ada habisnya dan tidak berguna), karena kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah.

Setelah kejadian itu, saya coba untuk membaca tentang orang idealis dan realistis, memang keduanya merupakan hal yang berbeda, namun saling melengkapi. Saya pun sadar, bahwa saya tidak dapat memaksakan pemikiranku terhadap seseorang. Saya hanya bisa memberikan saran untuk seseorang, dia lah yang berhak menerima atau menolak pemikiran yang saya sarankan.

Teringat buku 17 Indisputable Laws of Teamwork by John C. Maxwell. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa tidak semua orang bisa menjadi PEMIMPIN. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menjadi pemimpin banyak orang. Dari situ saya teringat kata-kata mas Hiza "Disini kalian dididik untuk menjadi PEMIMPIN, setelah meninggalkan Jogja, kembalilah ke daerah asal dan Pimpinlah daerah asalmu agar bisa maju" (kurang lebih seperti itu lah).

Karena sudah 7 bulan saya dididik untuk menjadi seorang pemimpin, otomatis pola pikir saya juga berubah seperti yang telah saya pelajari selama ini. Pemikiran saya cenderung mengajak orang untuk menjadi seorang pemimpin, sama seperti yang telah di install OSS dalam diri saya. 

Berarti perbedaan pola pikir saya dengan beberapa teman saya merupakan keseimbangan, seseorang yang idealis cenderung menjadi sosok pemimpin contohnya Bung Karno. Bung Karno dan Bung Hatta selalu memiliki pemikiran yang bertentangan, namun mereka dapat bekerja sama hingga akhirnya meraih kemerdekaan Indonesia. Ini merupakan keseimbangan yang positif.

Dari situ saya simpulkan bahwa PERBEDAAN memberikan KESEIMBANGAN. Buat teman-teman yang kurang setuju dengan pemikiran saya, mari kita coba untuk saling menyeimbangkan satu sama lain, ambil positifnya saja :D.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar